Kamis, 01 Mei 2014

Konsep Kewirausahaan



KONSEP KEWIRAUSAHAAN
Kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dalam usaha untuk memajukan karya baktinya dalam rangka upaya meningkatkan pendapatan di dalam kegiatan usahanya. Selain itu kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Sedangkan menurut Peggy A. Lambing & Charles R. Kuehl dalam buku Entrepreneurship (1999), kewirausahaan adalah suatu usaha yang kreatif yang membangun suatu value dari yang belum ada menjadi ada dan bisa dinikmati oleh orang banyak. Dari beberapa konsep yang ada di atas, ada enam hakekat penting kewirausahaan sebagai berikut:
1. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis (Acad Sanusi,1994)
2. Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda ( Drucker,1959)
3. Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (Zimmerer,1996)
4. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha dan perkembangan usaha ( Soeharto Prawiro,1997)
5. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru dan sesuatu yang berbeda yang bermanfaat member nilai lebih
6. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang  baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan baru kepada konsumen.


 KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN DAN KARAKTERISTIK WIRAUSAHA

 Karakteristik Kewirausahaan

1. Motif Berprestasi Tinggi
Para ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat berwirausaha karena adanya motif tertentu,yaitu motif berprestasi. Motif berprestasi adalah suatu nilai social yang menekankan pada hasrat utuk mencapai yan terbaik guna mencapai kepuasan secara pribadi. Faktor dasarnya adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Seprti yang dikemukakan oleh Maslow (1943) tentang teori motivasi yang dipengaruhi oleh tingkatan kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan tingkatan pemuasannya.
Kebutuhan berprestasi wirausaha terlihat dalam bentuk tindakan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan lebih efisien dibandingkan sebelumnya.Wirausaha yang memiliki motif berprestasi pada umumnya memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
a.       Ingin mengatasi sendiri kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya.
b.      Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk melihat keberhasilan dan kegagalan.
c.       Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.
d.      Berani menghadapi resiko dengan penuh perhitungan.
e.       Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang. Jika tugas yang diembannya sangat ringan.maka wirausaha merasa kurang tantangan, tetapi ia selalu menghindari tantangan yang paling sulit yang memungkinkan pecapaian keberhasilan sangat rendah.

2. Selalu Perspektif
Seorang wirausaha hendaknya seorang yang mampu menatap depan dengan lebih optimis. Melihat ke depan dengan berfikir dan berusaha. Usaha memanfaatkan peluang dengan penuh perhitungan. Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang yang memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan. Karena memiliki pandangan jauh ke masa depan maka ia akan selalu berusaha untuk berkarsa dan berkarya. Kuncinya pada kemampuan utnuk menciptakan sesuatu yang baru serta berbeda dengan yang sudah ada. Walaupun dengan resiko yang mungkin dapat terjadi, seorang yang perspektif harus tetap tabah dalam mencari peluang tantangan demi pembaharuan masa depan.Pandangan yang jauh ke depan membuat wirausaha tidak cepat puas dengan karya yang sudah ad. Karena itu ia harus mempersiapkannya dengan mencari suatu peluang.

3. Memiliki Kreatifitas Tinggi
Menurut Teodore Levit, kreativitas adalah kemampuan untuk berfikir yang baru dan berbeda. Oleh karena itu menurutnya kewirausahaan adalah berfikir dan bertindak sesuatu yang baru atau berfikir sesuatu yang lama dengan cara-cara baru. Menurut Zimmerer dalam buku yang ditulis Suryana (2003 : 24), mengungkapkan bahwa ide kreativitas sering muncul ketika wirausaha melihat sesuatu yang lama dan berfikir sesuatu yang baru dan berbeda. Oleh karena itu kreativitas adalah menciptakan sesuatu dari asalnya tidak ada.
Dari definisi di atas, kreativitas mengandung pengertian yaitu :
a.       Kreativitas adalah menciptakan sesuatu yang asalnya tidak ada.
b.      Hasil kerjasama masa kini untuk memperbaiki masa lalu dengan cara baru
c.       Menggantikan sesuatu dengan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih baik

4. Memiliki Perilaku Inovatif Tinggi
Menjadi wirausaha yang handal tidaklah mudah. Tetapi tidaklah sesulit yang dibayangkan banyak orang. Fakta sejarah menunjukkan kepada kita bahwa para wirausaha yang paling berhasil sekalipun pada dasarnya adalah manusia biasa. Sebeer Bathia, seorang digital entrepreneur yang meluncurkan hotmail.com pada tanggal 1996, baru menyadari hal ini ketika ia berguru kepada orang-orang seperti Steve Jobs, penemu computer pribadi (Apple). Dan kesadaran itu membuatnya cukup percaya diri ketika menetapkan harga penemuannya senilai 400 juta dollar AS kepada Bill Gates, pemilik mocrosoft yang juga manusia biasa.

5. Selalu Komitmen dalam Pekerjaan, Memiliki Etos Kerja dan Tanggung Jawab
Seorang wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam usahanya dan tekad yang bulat didalam mencurahkan semua perhatiannya pada usaha yang akan digelutinya, di dalam menjalankan usaha tersebut wirausaha yang sukses terus memiliki tekad yang menggebu-gebu dan menyala-nyala dalam mengembangkan usahanya, ia tidak setengah-setengah dalam berusaha, berani menanggung resiko, bekerja keras dan tidak takut menghadapi peluang-peluang yang ada di pasar. Tanpa usaha yang sungguh-sungguh terhadap pekerjaan yang digeluti maka wirausaha sehebat apapun pasti menemui jalan kegagalan dalam usahanya. Oleh karena itu pentng sekali bagi seorang wirausaha untuk komit terhadap usaha dan pekerjaannya, serta memiliki etos keja dan tanggung jawab yang baik.

6. Mandiri atau Tidak Ketergantungan
Sesuai dengan inti dari jiwa kewirausahaan yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalui berfikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup, maka seorang wirausaha harus mempuyai kemampuan kreatif dalam mengembangkan ide dan pikirannya terutama dalam menciptakan peluang usaha dalam pikrannya, dia dapat mandiri dalam usaha yang digelutinya tanpa harus bergantung pada orang lain. Seorang wirausaha harus dituntut untuk selalu menciptakan hal yang baru dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber yang  ada di sekitarnya, mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberkan kepuasan kepada knsumen.

7. Berani Mengambil Resiko
Richard Cantillon, orang pertama yang menggunakan istilah entrepreneur di awal abad ke 18, mengatakan bahwa wirausaha adalah seseorang yang menanggung resiko. Wirausaha dalam mengambil tindakan hendaknya tidak didasari oleh spekulasi, melainkan perhitugan yang matang. Ia berani mengambil resiko terhadap pekerjaannya karena sudah diperhitungkan. Oleh sebab itu wirasaha selalu berani engambil resiko yang moderat, artinya resiko yang diambil tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian resiko yang didukung komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari peluang sampai memperoleh hasil. Hasil-hasil itu harus nyata atau jelas dan obyektif, dan merupakan umpan balik bagi kelancaran kegiatannya ( Suyana, 2003 : 14-15 ).

8. Selalu Mencari Peluang
Esensi kewirausahaan yaitu tanggapan yang positif terhadap peluang untuk memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik pada pelanggan dan masyarakat, cara yang etis dan produktif untuk mencapai tujuan serta sikap mental untuk merealisasikan tanggapan yang positif tersebut.

9. Memiliki Jiwa Kepemimpinan
Wirausahawan yang berhasil juga merupakan pemimpin yang berhasil. Dikatakan sebagai pemimpin karena mereka harus mencari peluang-peluang, mengumpulkan sumber daya ( bahan, manusia , teknologi, dan modal ) yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan, menentukan tujuan, baik untuk mereka sendiri maupun untuk orang lain, dan memimpin serta membimbing orang lain untuk mencapai tujuan.

10. Memiliki Kemampuan Manajerial
Salah satu jiwa kewirausahaan yang harus dimiliki seorang wirausaha adalah kemampuan untuk managerial usaha yang sedang digelutinya, seorang wirausaha harus memiliki kemampuan perencanaan usaha, mengkoordinasikan usaha, mengelola usaha dan sumer daya manusia, mengontrol usaha, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaannya yang kesemuannya itu adalah merupakan kemampuan managerial yang wajib dimiliki dari seorang wirausaha, tanpa itu semua maka bukan eberhasilan yang diperoleh tetapi kegagalan usaha yang diperoleh.

 Karakteristik Wirausaha
Ada tujuh karakter dasar yang perlu dimiliki setiap calon wirausaha. Ketujuh karakter tersebut adalah sebagai berikut.

1.      Action Oriented.
Seorang entrepreneur selalu ingin segera bertindak, sekalipun situasinya tidak pasti (uncertain). Prinsip yang mereka anut adalah see and do. Bagi mereka, resiko bukanlah untuk dihindari, melainkan untuk dihadapi dan ditaklukkan dengan tindakan dan kelihaian.

2.      Berpikir simpel.
Sekalipun dunia telah berubah menjadi sangat kompleks, mereka selalu belajar menyederhanakannya. Dan sekalipun berilmu tinggi, mereka bukanlah manusia teknis yang ribet dan menghendaki pekerjaan yang kompleks. Mereka melihat persoalan dengan jernih dan menyelesaikan masalah satu demi satu secara bertahap.

3.      Mereka selalu mencari peluang-peluang baru.
Apakah itu peluang usaha yang benar-benar baru, atau peluang dari usaha yang sama. Untuk usaha-usaha yang baru, mereka selalu mau belajar yang baru, membentuk jaringan dari bawah dan menambah landscape atau scope usahanya. Sedangkan dalam usaha yang sama, mereka selalu tekun mencari alternatif-alternatif baru, seperti model, desain, platform, bahan baku, energi, kemasan, dan struktur biaya produksi. Mereka meraih keuntungan bukan hanya dari bisnis atau produk baru, melainkan juga dengan cara-cara baru.

4.      Mengejar peluang dengan disiplin tinggi.
Seorang wirausaha bukan hanya awas, memiliki mata yang tajam dalam melihat peluang, atau memiliki penciuman yang kuat terhadap keberadaan peluang itu, tetapi mereka bergerak ke arah itu. Peluang bukan hanya dicari, diciptakan, dibuka, dan diperjelas. Karena wirausaha melakukan investasi dsn menanggung resiko, maka seorang wirausaha harus memiliki disiplin yang tinggi. Wirausah-wirausaha yang sukses bukanlah pemalas atau penunda pekerjaan. Mereka ingin pekerjaannya selesai, dan apa yang dipikirkan dapat dikerjakan segera. Mereka bertarung dengan waktu karena peluang selslu berhubungan dengan waktu. Apa yang menjadi peluang pada suatu waktu, belum tentu masih menjadi peluang di lain waktu. Sekali kesempatan itu hilang, belum tentu akan kembali lagi. Setiap gagasan brilliant dan inovasi biasanya harus dibangun dari bawah dan disusun seluruh mata rantai nilainya (value chain).

5.      Hanya mengambil peluang yang terbaik.
Cara penilaian peluang tersebut ada pada nilai-nilai ekonomis yang terkandung didalamnya, masa depan yang lebih cerah, kemampuan menunjukkan prestasi, dan perubahan yang dihasilkan. Semua itu biasanya dikaitkan dengan "rasa suka" terhadap objek usaha atau kepercayaan bahwa dia "mampu" merealisasikannya. Pada akhirnya, sukses yang diraih setiap orang ditentukan oleh keberhasilan orang itu dalam memilih.

6.      Fokus pada eksekusi.
Wirausaha bukanlah orang yang bergulat dengan pikiran, merenung atau menguji hipotesis, melainkan orang yang fokus pada eksekusi. Mereka tidak mau berhenti pada eksploitasi pikiran atau berputar-putar dalam pikiran penuh keraguan. "Manusia dengan entrepreneur mindset mengeksekusi, yaitu melakukan tindakan dan merealisasikan yang dipikirkan daripada menganalisa ide-ide baru sampai mati". Mereka juga adaptif terhadap situadi, yaitu mudah menyesuaikan diri dengan fakta-fakta baru atau kesulitan di lapangan.

7.      Memfokuskan energi setiap orang pada bisnis yang digeluti.
Seorang wirausaha tidak bekerja sendirian. Dia menggunakan tangan dan pikiran setiap orang, baik dari dalam maupun luar perusahaannya. Mereka membangun jaringan daripada melakukan impiannya sendiri. Ibarat seorang orkestraktor atu dirigen musik, dia mengumpulkan pemusik-pemusik yang ahli dalam memainkan instrumen-instrumen yang berbeda-beda untuk menghasilkan nada-nada musik yang disukai penonton. Untuk itu, dia harus memiliki kemampuan mengumpulkan orang, membangun jaringan, memimpin, menyatukan gerak, memotivasi, dan berkomunikasi.

 NILAI DAN PERILAKU WIRAUSAHA

 Nilai Wirausaha
Menurut Suryana (2001:15) ada beberapa nilai hakiki penting dari kewirausahaaan yaitu :

1.      Percaya diri, kepercayaan diri berpengaruh pada gagasan, karsa, inisiatif, kreativitas, keberanian, ketekunan, semangat kerja keras, dan kegairahan berkarya.
2.      Berorientasi tugas dan hasil, seseorang yang selalu mengutamakan tugas dan hasil adalah seseorang yang selalu mengutamakan nilai-nilai motif berprestasi, berorientasi pada laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energik dan berinisiatif.
3.      Keberanian mengambil resiko, tergantung pada daya tarik setiap alternatif, persediaan untuk rugi dan kemungkinan relative untuk sukses atau gagal. Kemampuan utnuk mengambil resiko ditentukan oleh keyakinan diri, kesediaan untuk menggunakan kemampuan, dan kemampuan untuk menilai resiko.
4.      Kepemimpinan kewirausahaan memiliki sifat sifat kepeloporan keteladanan, tampil berbeda, lebih menonjol dan lebih menonjol, dan mampu berfikir divergen dan konvergen.
5.      Keorisinilan : kreativitas dan keinovasian. Kreativitas adalah kemampuan untuk berfikir yang baru dan berbeda, sedangkan keinovasian adalah kemampuan untuk bertindak yang baru dan berbeda.

Perilaku Wirausaha
Pola tingkah laku kewirausahaan tergambar dalam perilaku dan kemampuan sebagai berikut :
  1. Kepribadian, aspek ini bias diamati dari segi kreativitas, disiplin diri, keberanian menghadapi resiko, memiliki dorongan dan kemauan kuat.
  2. Kemampuan hubungan, oprasionalnya dapat dilihat dari indicator komunikasi dan hubungan antar personal, kepemimpinan dan manajmen
  3. Pemasaran, meliputi kemampuan dalam menentukan produk dan harga, periklanan dan promosi
  4. Keuangan, indikatornya adalah sikap terhadap uang dan cara mengatur uang.
Mengembangkan pribadi wirausaha identik dengan mengembangkan perilaku wirausaha yaitu   mengenali diri sendiri dan kendala yang dihadapinya sebagai langkah awal mengemukakan enam
ciri perilaku kewirausahaan yaitu : 
 Ketrampilan mengambil keputusan dan mengambil resiko yang moderat dan bukan atas dasar kebetulan belaka
 Bersifat energetic, khususnya dalam bentuk berbagai kegiatan inovatif 
 Tanggug jawab individual 
  Mengetahui hasil-hasil dari berbagai keputusan yang diambilnya, dengan tolak ukur satuan uang sebagai indicator keberhasilan. 
 Mampu mangatisipasi berbagai kemungkinan di masa dating
 Memiliki kemapuan berorganisasi, yaitu bahwa seorang wirausaha memiliki kemampuan ketrampilan, kepemimpinan dan managerial 
 MOTIF MENJADI WIRAUSAHA
Ada beberapa alasan seseorang berwirausaha menurut Wirasasmita (1994) yakni :
1.      Mencari nafkah, untuk menjadi kaya, untuk mencari pendapatan tambahan, sebaagai jaminan stabilitas keuangan.
2.      Alasan social yaitu memperoleh gengsi/status, untuk dapat dikenal dan dihormati, untuk menjadi panutan, agar dapat bertemu dengan orang banyak.
3.      Alasan pelayanan, yaitu memberi pekerjaan kepada masyarakat, membantu anak yatim, membahagiakan orang tua, demi masa depan keluarga
4.      Alasan memenuhi diri, untuk menjadi atasan/mandiri, untuk mencapai sesuatu yang di inginkan, untuk menghindari ketergantungan pada orang lain, agar lebih produktif dan untuk menggunakan kemampuan pribadi.

 PROSES KEWIRAUSAHAAN
Pengembangan kewirausahaan di awali dari proses sebagai berikut :

1.      Proses Inovasi
 Faktor yang mendorong terjadinya inovasi,yaitu keinginan berprestasi, adanya sifat penasaran, keinginan menanggung resiko, dan pengalaman

2.      Proses Pemicu
Faktor yang mendorong seseorang terjun ke dunia bisnis yaitu adanya ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang ada, terjadinya pemutusan hubungan kerja,keberanian menanggung resiko, dan komitmen yang tinggi terhadap bisnis

3.      Proses Pelaksanaan
Faktor yang mendorong pelaksanaan dari sebuah bisnis yaitu kesiapan mental wirausaha secara total, adanya manager sebagai pelaksana kegiatan, dan adanya visi jauh kedepan untuk mencapai keberhasilan

4.      Proses Pertumbuhan
Proses pertumbuhan didorong factor organisasi,yaitu adanya tim yang kompak dalam menjalankan usaha, adanya strategi yang mantap, adanya struktur dan budaya organisasi yang baik dan adanya produk yang menjadi unggulan.


Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha terdiri dari :
1.      Tahap Memulai
Tahap ini dimana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala seuatu yang diperlukan,di awali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin,apakah membuka usaha baru atau melakukan franchising. Juga memilih usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian,industri atau manufaktur, maupun produksi atau jasa.

2.      Tahap melaksanakan usaha
Tahap ini seseorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya. Mencakup aspek-aspek : Pembiayaan, SDM, Kepemilikan, Organisasi, Kepemimpinan yang meliputi bagaimana pengambilan resiko dan mengambil keputusan pemasaran dan melakukan evaluasi.

3.      Mempertahankan usaha
Tahap ini dimana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai untuk ditindak lanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

4.      Mengembangkan usaha
Tahap dimana jika hasil yang diperoleh tergolong psitif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha yang menjadi salah satu pilihan yang mungkin di ambil.

  FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN WIRAUSAHA

 Faktor Penyebab Keberhasilan Wirausaha
Ada beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha berhasil adalah :
1.      Faktor Peluang
2.      Faktor SDM
3.      Faktor Keuangan
4.      Faktor Organisasional
5.      Faktor Perencanaan
6.      Faktor Pengelolaan usaha
7.      Faktor Pemasaran dan Penjualan
8.      Faktor Administrasi
9.      Faktor Peraturan Pemerintah, Politik, Sosial, dan Budaya Lokal
10.  Catatan Bisnis

    Faktor Penyebab Kegagalan Wirausaha
Ada beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usahanya :

1.      Tidak kompeten dalam manajerial
Tidak kompeten atautidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan factor penyebab utama yang membuat perusahaan kurang berhasil

2.      Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan
Mengkoordinasikan, ketrampilan mengelola SDM, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.

3.      Kurang dapat mengendalikan keuangan
Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik factor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Yaitu mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat.

4.      Gagal dalam perencanaan
Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.

5.      Lokasi yang kurang memadai
Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakiatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.

6.      Kurangnya pengawasan peralatan
Pengawasan erat hubungannya dengan efisiensi dan efektifitas. Kurang pengawasan mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan efektif.

7.      Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha
Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati,kemungkinan gagal menjadi besar.

8.      Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan.
Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melaksanakan perubahan, tidak akan menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu.

Profil Wirausahawan
Tempat obeservasi yang didatangi adalah home industry shuttlecock. Nama pemiliknya adalah Bapak Herianto. Beliau lahir pada Februari tahun 1979-an di Malang. Beliau mempunyai seorang istri dan satu orang anak. Bapak herianto memulai usaha shuttlecock ini pada tahun 1990. Dimulai dengan tekad yang kuat karena telah berpengalaman menjadi supervisor di salah satu pabrik shuttlecock ternama di Jawa Timur, pabrik tersebut bernama NINE.

Wirausahawan yang lain adalah  Adi Setiawan. Dia adalah salah seorang mahasiswa UNISMA (Universitas Islam Malang) jurusan Ekonomi Manajemen yang dilahirkan 22 tahun yang lalu. Mahasiswa yang sekarang sedang menyusun proposal skripsi ini adalah salah satu distributor shuttlecock yang telah diproduksi oleh Bapak Herianto. Hal yang menarik yang perlu digaris bawahi adalah profesinya sebagai distributor dan dapat menghasilkan penghasilan sendiri meskipun masih berstatus mahasiswa. Berangkat dari menjadi penjaga salah satu warnet di Kota Malang berusaha terus untuk menemukan pekerjaan yang bisa menghasilkan penghasilan yang lebih besar dan akhirnya menemukan alternatif pekerjaan sehingga dia menjadi distributor shuttlecock meskipun membutuhkan waktu yang lumayan lama. Dia begitu antusias dengan shuttlecock karena dia telah menyukai badminton semenjak dia berada di SMA.  

  Profil Usaha
Nama Usahawan         : Adi Setiawan
Jenis usaha                  : distributor shuttlecock
Merk                            : Rally Point
Lokasi                         : Jl. Biru Asri, Singosari Malang
Alamat Website          : www.gudangshuttlecock.blogspot.com

  Teknik pembuatan
Untuk membuat shuttlecock memerlukan proses yang cukup panjang, proses-proses tersebut harus dilakukan dengan ketelitian dan ketletenan yang cukup besar agar bisa menghasilkan shuttlecock yang bagus pula. Sebelum melakukan pembuatan yang harus dilakukan adalah menyiapakan bahan-bahannya terlebih dahulu. Bahan-bahan dan alat yang diperlukan adalah sebagai beriktu:

a.       Bulu angsa
Bulu angsa yang digunakan untuk membuat cock adalah bulu angsa impor dari luar negeri. Akan tetapi pembuat shuttlecock membeli dari pasar.
b.      Kepala cock
Kepala cock berasal dari bahan khusus yang terbuat dari kayu impor.
c.       Label
d.      Pita label (merk)
Label dan pita untuk pembuatan merk dagang bisa dipesan ditempat pembuatan banner dan pamphlet.
e.       Gunting
Digunakan untuk merapikan cock yang sudah dibentuk dengan bagus sebelum di lem.
f.       Tang
Digunakan untuk menata cock agar besa tertancap dengan benar, bagus dan kuat sehingga hasilnya kock akan seimbang baik dari kecepatan dan beratnya.
g.      Mesin pemotong bulu
Untuk merapikan bulu dan memotong bulu sesuai dengan ukurannya.
h.      Mesing pembuat lubang
Melubangi kepala cock agar bisa ditancapi bulu yang sudah dipotong dengan mesi pemotong.
i.        Press (kocrok) dan sketmat
Digunakan untuk menata dan membuat cock agar mempunyai dimeter yang sama dan berimbang, sehingga ketika dipukul tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.
j.        Timbangan cock
Digunakan untuk menimbang cock. Sehingga semua cock mempunyai ukuran standar yang sama.
k.      Benang
Digunakan untuk membuat cock lebih kuat dengan mengikat bulu-bulu cock yang telah di tata pada kepala cock.
l.        Lem
Digunakan untuk menempelkan cock agar tidak lagi bergerak dan membuat cock stabil dalam ukuran standarnya.
m.    Tempat cock (slob)
digunakan untuk meletakkan kock dalam kemasan agar mudah dibawa, disimpan dan tidak mudah rusak.
n.      Plastic pembungkus
Digunakan untuk membungksus slob agar terlihat lebih menarik.

Setelah bahan-bahan dan alat-alat sudah terkumpulkan maka tahap selanjutnya adalah melakukan pembuatan shuttlecock. Adapun langkah-langkah dalam pembuatan shuttlecock adalah sebagai berikut:

a.       Bulu angsa mentah yang masih belum memasuki proses mulai dimasukkan dalam tungku untuk direbus (diuapkan diatas air yang mendidih) dan air diberi campuran khusus dengan tujuan membuat bulu lebih kuat.
b.      Bulu yang sudah diuapkan diseleksi untuk dibedakan bulu yang memiliki kualitas baik dan sedang untuk pengelompokan penentuan brand yang akan diberikan.
c.       Bulu – bulu yang sudah dibedakan mulai dipotong dengan menggunakan alat pemotong khusus sehingga hasil potongan menunjukkaan ukuran dan bentuk yang sama.
d.      Mempersiapkan (melubangi) kepala shuthecock yang terbuat dari kayu dengan alat khusus sehingga ukuran dari jarak dan lubangnya sama, sebanyak 16 lubang.
e.       Memasangkan satu-persatu bulu yang telah terpotong dengan rapi pada lubang di kepala shuttlecock
f.       Setelah bulu terpasang, dilakukan perajutan (dikaitkan) satu sama lain sehingga menjadi kokoh. Setelah itu dilakukan pemotongan pada bulu-bulu yang tidak teratur sehingga setelah dipotong bulu-bulu yang sudah terpotong majadi lebih rata dan terlihat bagus serta seimbang.
g.      Setelah proses perajutan dilakukan perapian bentuk lingkar dengan alat set sehingga bentuk shuttlecock lebih sempurna dan ukurannya sama. Pada bagian ini ada 2 macam bagian yang dipres, antara lain pada bagian tengan dan bagian ujung-ujung bulu. Untu bagian ujung bulu harus sesuai dengan alat pres (sketmat) dengan ukuran 6.6cm.
h.      Seleksi satu-persatu shuttlecock dengan dipukul layaknya melakukan pukulan saat lop atau dengan pukulan service bawah, untuk melihan goncangan ataupun putaran shuttlecock saat di udara.
i.        Dilakukan pengeleman (perekatan) antara benang bulu dan kepala shuttlecock sehingga menjadi kuat. Adapun Jenis lem yang digunakan ada dua macam, pertama lem yang miliki kualitas bagus (berwarna putih) dan yang kedua adalah lem yang memiliki kualitas biasa lem (berwarna kuning). Lem yang berkualitas biasa cenderung akan mempengaruhi berat shutllecock karena bahan dari lem itu sendiri.
j.        Proses penimbangan berat shuttlecock dengan tujuan menstandardkan berat shutleecock 56-58 gr, menggunakan timbangan digital yang biasa digunakan untuk menimbang emas.
k.      Dilakukan seleksi yang menunjukkan bagus dan kurang bagus diberikan pada kelompok yang berbeda untuk dibedakan jenis brand yang berbeda sesuai dengan harga yang dipasarkan.
l.        Dari masing-masing kelompok hasil seleksi mulai diberikan brand atau merk sesuai dengan kualitas shuttlecock.
m.    Setelah diberikan brand sesuai dengan kualitasnya, setelah itu shuttlecock siap untuk dikemas
  Pemasaran

1.      Link/jaringan cara mencari link
Setelah proses pembuatan shuttlecock selesai hingga tahap sempurna, maka selanjutnya dilakukan distribusi. Distribusi ini hanya mengandalkan media website, karena memang belum ada kantor atau tempat paten yang bisa didatangi secara langsung oleh konsumen. Hal ini sedikit menghambat proses komunikasi dan distribusi shuttlecock yang telah dibuat tersebut, karena pembeli tidak bisa memesan secara langsung shuttlecock yang diinginkan.
Proses penyaluran shuttlecock berprinsip seperti pohon faktor. Artinya sebagai distributor dia hanya menyalurkan shuttlecock yang telah jadi kepada pengepul ataupun kepada konsumen.
     Dari keterangannya ada beberapa jaringan atau penadah yang sudah menjadi mitra dalam menyalurkan shuttlecock yang mayoritas berada diluar jawa. Para pengepul tersebut antara lain berasal dari daerah:
a.       Aceh
b.      Dumai
c.       Indramayu
d.      Batam
e.       Samarinda
f.       Bekasi (dalam proses)
Melihat dari beberapa tempat yang lumayan jauh dari Malang tentunya agak merepotkan distributor dalam penyalurannya. Olehkarena itu distributor tersebut lebih memilih aman dengan meminta para pengepul untuk mengirimkan uangnya terlebih dahulu beserta ongkos kirimnya dan setelah semua persyaratan terpenuhi shuttlecock bisa dikirim.
Untuk mempertahankan jaringan yang begitu luas distributor tidak hanya mengandalkan seorang pengepul saja, akan tetapi beberapa pengepul sehingga proses distribusi shuttlecock dengan brand-nya bisa tetap lancar. Prinsipnya jika salah seorang pengepul tidak bisa menghabiskan jatah shuttlecock yang telah ditentukan maka dalam jangka waktu tertentu tidak akan disuplay kembali dan di berikan jatah orang tersebut kepada orang lain yang lebih mumpuni untuk menjual shuttlecock dengan target yang ditentukan.

2.      Masalah perijinan
Kendala perijinan (No. Reg) barang menjadi hal yang mahal bagi home industry seperti ini. Pada dasarnya mereka mengetahui akan risiko bisnis yang mereka tekuni. Mereka sadar bahwa jika shuttlecock mereka memiliki kualitas bagus, kemungkinan besar akan banyak yang mereplika produk mereka. Jika memiliki perijinan atau nomor registrasi produk mereka akan dapat menuntut pihak yang mereplika atau meniru produk mereka dengan mudah, namun jika tidak memiliki nomor registrasi tersebut proses penuntutan mereka akan sulit terpenuhi. Selain itu ada kelebihan lain jika memiliki nomor registrasi produk, produk mereka kemungkinan besar akan dapat bersaing dengan brand besar seperti Mika*a, Ni*e dll dalam perebutan pasar di bidang instansi resmi khususnya PBSI.

3.      Keuntungan/keuangan
Modal awal enterprenuer muda kita sebesar 500.000, beliau hanya mendapat tidak lebih dari 20 slop shuttlecock dan itu hanya di gunakan untuk sample pada orang yang akan memesan. Mula-mula beliau memasarkan brand Rally point melalui blog, kemudian ada yang memesan brand lain yang ada di blognya beliau menawarkan brand rally point dulu dengan mengirimkan sample tersebut. Hingga pemesan pun memesan brand rally point. Dengan uang pemesan, beliau langsung menggunakannya sebagai modal untuk pembuatan shuttlecock sesuai dengan jumlah pesanan (pemutaran uang), sisa dari modal pembuatan shuttlecock tersebut adalah laba bagi beliau. Laba bersih yang di raup oleh beliau sekiranya lebih dari UMR kota Malang dan tidak lebih dari 3 juta per bulan (di rahasiakan oleh mas Adi).

4.      Jumlah karyawan
Untuk proses pengerjaan dalam pemasangan bulu dibutuhkan karyawan yang lumayan banyak agar cepat selesai. Akan tetapi pada home industri yang ada hanya terdapat sekitar 12 karyawan. Sehingga untuk kebutuhan cock dalam jumlah besar tidak bisa langsung diadakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar