Kamis, 01 Mei 2014
Indonesia Be Loved: Konsep Kewirausahaan
Indonesia Be Loved: Konsep Kewirausahaan: KONSEP KEWIRAUSAHAAN Kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat j i wa yang selalu aktif dalam usaha untuk memajukan karya baktin...
Konsep Kewirausahaan
KONSEP
KEWIRAUSAHAAN
Kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dalam usaha untuk memajukan karya
baktinya dalam rangka upaya meningkatkan pendapatan di dalam kegiatan usahanya.
Selain itu kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan
dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Sedangkan
menurut Peggy A. Lambing & Charles R. Kuehl dalam buku Entrepreneurship (1999),
kewirausahaan adalah suatu usaha yang kreatif yang membangun suatu value dari
yang belum ada menjadi ada dan bisa dinikmati oleh orang banyak. Dari beberapa
konsep yang ada di atas, ada enam hakekat penting kewirausahaan sebagai
berikut:
1. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan
dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan,
siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis (Acad Sanusi,1994)
2. Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk
menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda ( Drucker,1959)
3. Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan
kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk
memperbaiki kehidupan (Zimmerer,1996)
4. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk
memulai suatu usaha dan perkembangan usaha ( Soeharto Prawiro,1997)
5. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan
sesuatu yang baru dan sesuatu yang berbeda yang bermanfaat member nilai lebih
6. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah
dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda
untuk memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan
cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara
baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang
baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan
menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan baru kepada konsumen.
KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN DAN KARAKTERISTIK WIRAUSAHA
Karakteristik Kewirausahaan
1. Motif
Berprestasi Tinggi
Para ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat
berwirausaha karena adanya motif tertentu,yaitu motif berprestasi. Motif
berprestasi adalah suatu nilai social yang menekankan pada hasrat utuk mencapai
yan terbaik guna mencapai kepuasan secara pribadi. Faktor dasarnya adalah kebutuhan
yang harus dipenuhi. Seprti yang dikemukakan oleh Maslow (1943) tentang teori
motivasi yang dipengaruhi oleh tingkatan kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan
tingkatan pemuasannya.
Kebutuhan berprestasi wirausaha terlihat dalam bentuk
tindakan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan lebih efisien dibandingkan
sebelumnya.Wirausaha yang memiliki motif berprestasi pada umumnya memiliki
cirri-ciri sebagai berikut:
a. Ingin mengatasi sendiri kesulitan dan
persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya.
b. Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk
melihat keberhasilan dan kegagalan.
c. Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.
d. Berani menghadapi resiko dengan penuh perhitungan.
e. Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara
seimbang. Jika tugas yang diembannya sangat ringan.maka wirausaha merasa kurang
tantangan, tetapi ia selalu menghindari tantangan yang paling sulit yang
memungkinkan pecapaian keberhasilan sangat rendah.
2. Selalu
Perspektif
Seorang wirausaha hendaknya seorang yang mampu menatap
depan dengan lebih optimis. Melihat ke depan dengan berfikir dan berusaha.
Usaha memanfaatkan peluang dengan penuh perhitungan. Orang yang berorientasi ke
masa depan adalah orang yang memiliki perspektif dan pandangan ke masa depan.
Karena memiliki pandangan jauh ke masa depan maka ia akan selalu berusaha untuk
berkarsa dan berkarya. Kuncinya pada kemampuan utnuk menciptakan sesuatu yang
baru serta berbeda dengan yang sudah ada. Walaupun dengan resiko yang mungkin
dapat terjadi, seorang yang perspektif harus tetap tabah dalam mencari peluang
tantangan demi pembaharuan masa depan.Pandangan yang jauh ke depan membuat
wirausaha tidak cepat puas dengan karya yang sudah ad. Karena itu ia harus
mempersiapkannya dengan mencari suatu peluang.
3. Memiliki
Kreatifitas Tinggi
Menurut Teodore Levit, kreativitas adalah kemampuan
untuk berfikir yang baru dan berbeda. Oleh karena itu menurutnya kewirausahaan
adalah berfikir dan bertindak sesuatu yang baru atau berfikir sesuatu yang lama
dengan cara-cara baru. Menurut Zimmerer dalam buku yang ditulis Suryana (2003 :
24), mengungkapkan bahwa ide kreativitas sering muncul ketika wirausaha melihat
sesuatu yang lama dan berfikir sesuatu yang baru dan berbeda. Oleh karena itu
kreativitas adalah menciptakan sesuatu dari asalnya tidak ada.
Dari
definisi di atas, kreativitas mengandung pengertian yaitu :
a. Kreativitas adalah menciptakan sesuatu yang asalnya
tidak ada.
b. Hasil kerjasama masa kini untuk memperbaiki masa lalu
dengan cara baru
c. Menggantikan sesuatu dengan sesuatu yang lebih
sederhana dan lebih baik
4. Memiliki
Perilaku Inovatif Tinggi
Menjadi wirausaha yang handal tidaklah mudah. Tetapi
tidaklah sesulit yang dibayangkan banyak orang. Fakta sejarah menunjukkan
kepada kita bahwa para wirausaha yang paling berhasil sekalipun pada
dasarnya adalah manusia biasa. Sebeer Bathia, seorang digital entrepreneur yang
meluncurkan hotmail.com pada tanggal 1996, baru menyadari hal ini ketika ia
berguru kepada orang-orang seperti Steve Jobs, penemu computer pribadi (Apple).
Dan kesadaran itu membuatnya cukup percaya diri ketika menetapkan harga
penemuannya senilai 400 juta dollar AS kepada Bill Gates, pemilik mocrosoft
yang juga manusia biasa.
5. Selalu
Komitmen dalam Pekerjaan, Memiliki Etos Kerja dan Tanggung Jawab
Seorang wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam
usahanya dan tekad yang bulat didalam mencurahkan semua perhatiannya pada usaha
yang akan digelutinya, di dalam menjalankan usaha tersebut wirausaha yang
sukses terus memiliki tekad yang menggebu-gebu dan menyala-nyala dalam
mengembangkan usahanya, ia tidak setengah-setengah dalam berusaha, berani
menanggung resiko, bekerja keras dan tidak takut menghadapi peluang-peluang
yang ada di pasar. Tanpa usaha yang sungguh-sungguh terhadap pekerjaan yang
digeluti maka wirausaha sehebat apapun pasti menemui jalan kegagalan dalam
usahanya. Oleh karena itu pentng sekali bagi seorang wirausaha untuk komit
terhadap usaha dan pekerjaannya, serta memiliki etos keja dan tanggung jawab
yang baik.
6. Mandiri
atau Tidak Ketergantungan
Sesuai dengan inti dari jiwa kewirausahaan yaitu
kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalui berfikir
kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi
tantangan hidup, maka seorang wirausaha harus mempuyai kemampuan kreatif dalam
mengembangkan ide dan pikirannya terutama dalam menciptakan peluang usaha dalam
pikrannya, dia dapat mandiri dalam usaha yang digelutinya tanpa harus
bergantung pada orang lain. Seorang wirausaha harus dituntut untuk selalu
menciptakan hal yang baru dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber yang ada di sekitarnya, mengembangkan
teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk
menghasilkan barang dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk
memberkan kepuasan kepada knsumen.
7. Berani
Mengambil Resiko
Richard Cantillon, orang pertama yang menggunakan
istilah entrepreneur di awal abad ke 18, mengatakan bahwa wirausaha adalah
seseorang yang menanggung resiko. Wirausaha dalam mengambil tindakan hendaknya
tidak didasari oleh spekulasi, melainkan perhitugan yang matang. Ia berani
mengambil resiko terhadap pekerjaannya karena sudah diperhitungkan. Oleh sebab
itu wirasaha selalu berani engambil resiko yang moderat, artinya resiko yang
diambil tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian resiko yang
didukung komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari
peluang sampai memperoleh hasil. Hasil-hasil itu harus nyata atau jelas dan
obyektif, dan merupakan umpan balik bagi kelancaran kegiatannya ( Suyana, 2003
: 14-15 ).
8. Selalu
Mencari Peluang
Esensi kewirausahaan yaitu tanggapan yang positif
terhadap peluang untuk memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau
pelayanan yang lebih baik pada pelanggan dan masyarakat, cara yang etis dan
produktif untuk mencapai tujuan serta sikap mental untuk merealisasikan
tanggapan yang positif tersebut.
9. Memiliki
Jiwa Kepemimpinan
Wirausahawan yang berhasil juga merupakan pemimpin
yang berhasil. Dikatakan sebagai pemimpin karena mereka harus mencari
peluang-peluang, mengumpulkan sumber daya ( bahan, manusia , teknologi, dan
modal ) yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan, menentukan tujuan, baik
untuk mereka sendiri maupun untuk orang lain, dan memimpin serta membimbing
orang lain untuk mencapai tujuan.
10. Memiliki
Kemampuan Manajerial
Salah satu jiwa kewirausahaan yang harus
dimiliki seorang wirausaha adalah kemampuan untuk managerial usaha yang sedang
digelutinya, seorang wirausaha harus memiliki kemampuan perencanaan usaha,
mengkoordinasikan usaha, mengelola usaha dan sumer daya manusia, mengontrol
usaha, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaannya yang kesemuannya
itu adalah merupakan kemampuan managerial yang wajib dimiliki dari seorang
wirausaha, tanpa itu semua maka bukan eberhasilan yang diperoleh tetapi
kegagalan usaha yang diperoleh.
Karakteristik Wirausaha
Ada tujuh karakter dasar yang perlu dimiliki setiap
calon wirausaha. Ketujuh karakter tersebut adalah sebagai berikut.
1. Action
Oriented.
Seorang entrepreneur selalu ingin segera bertindak,
sekalipun situasinya tidak pasti (uncertain). Prinsip yang mereka anut adalah
see and do. Bagi mereka, resiko bukanlah untuk dihindari, melainkan untuk
dihadapi dan ditaklukkan dengan tindakan dan kelihaian.
2. Berpikir
simpel.
Sekalipun dunia telah berubah menjadi sangat kompleks,
mereka selalu belajar menyederhanakannya. Dan sekalipun berilmu tinggi, mereka
bukanlah manusia teknis yang ribet dan menghendaki pekerjaan yang kompleks.
Mereka melihat persoalan dengan jernih dan menyelesaikan masalah satu demi satu
secara bertahap.
3.
Mereka selalu mencari peluang-peluang baru.
Apakah itu peluang usaha yang benar-benar baru, atau
peluang dari usaha yang sama. Untuk usaha-usaha yang baru, mereka selalu mau
belajar yang baru, membentuk jaringan dari bawah dan menambah landscape atau
scope usahanya. Sedangkan dalam usaha yang sama, mereka selalu tekun mencari
alternatif-alternatif baru, seperti model, desain, platform, bahan baku,
energi, kemasan, dan struktur biaya produksi. Mereka meraih keuntungan bukan
hanya dari bisnis atau produk baru, melainkan juga dengan cara-cara baru.
4. Mengejar
peluang dengan disiplin tinggi.
Seorang wirausaha bukan hanya awas, memiliki mata yang
tajam dalam melihat peluang, atau memiliki penciuman yang kuat terhadap
keberadaan peluang itu, tetapi mereka bergerak ke arah itu. Peluang bukan hanya
dicari, diciptakan, dibuka, dan diperjelas. Karena wirausaha melakukan
investasi dsn menanggung resiko, maka seorang wirausaha harus memiliki disiplin
yang tinggi. Wirausah-wirausaha yang sukses bukanlah pemalas atau penunda
pekerjaan. Mereka ingin pekerjaannya selesai, dan apa yang dipikirkan dapat
dikerjakan segera. Mereka bertarung dengan waktu karena peluang selslu
berhubungan dengan waktu. Apa yang menjadi peluang pada suatu waktu, belum
tentu masih menjadi peluang di lain waktu. Sekali kesempatan itu hilang, belum
tentu akan kembali lagi. Setiap gagasan brilliant dan inovasi biasanya harus
dibangun dari bawah dan disusun seluruh mata rantai nilainya (value chain).
5. Hanya
mengambil peluang yang terbaik.
Cara penilaian peluang tersebut ada pada nilai-nilai
ekonomis yang terkandung didalamnya, masa depan yang lebih cerah, kemampuan
menunjukkan prestasi, dan perubahan yang dihasilkan. Semua itu biasanya dikaitkan
dengan "rasa suka" terhadap objek usaha atau kepercayaan bahwa dia
"mampu" merealisasikannya. Pada akhirnya, sukses yang diraih setiap
orang ditentukan oleh keberhasilan orang itu dalam memilih.
6.
Fokus pada eksekusi.
Wirausaha bukanlah orang yang bergulat dengan pikiran,
merenung atau menguji hipotesis, melainkan orang yang fokus pada eksekusi.
Mereka tidak mau berhenti pada eksploitasi pikiran atau berputar-putar dalam
pikiran penuh keraguan. "Manusia dengan entrepreneur mindset mengeksekusi,
yaitu melakukan tindakan dan merealisasikan yang dipikirkan daripada
menganalisa ide-ide baru sampai mati". Mereka juga adaptif terhadap
situadi, yaitu mudah menyesuaikan diri dengan fakta-fakta baru atau kesulitan
di lapangan.
7. Memfokuskan
energi setiap orang pada bisnis yang digeluti.
Seorang wirausaha tidak bekerja sendirian. Dia
menggunakan tangan dan pikiran setiap orang, baik dari dalam maupun luar
perusahaannya. Mereka membangun jaringan daripada melakukan impiannya sendiri.
Ibarat seorang orkestraktor atu dirigen musik, dia mengumpulkan pemusik-pemusik
yang ahli dalam memainkan instrumen-instrumen yang berbeda-beda untuk
menghasilkan nada-nada musik yang disukai penonton. Untuk itu, dia harus
memiliki kemampuan mengumpulkan orang, membangun jaringan, memimpin, menyatukan
gerak, memotivasi, dan berkomunikasi.
NILAI DAN PERILAKU WIRAUSAHA
Nilai Wirausaha
Menurut Suryana (2001:15) ada beberapa nilai hakiki
penting dari kewirausahaaan yaitu :
1.
Percaya diri,
kepercayaan diri berpengaruh pada gagasan, karsa, inisiatif, kreativitas,
keberanian, ketekunan, semangat kerja keras, dan kegairahan berkarya.
2. Berorientasi
tugas dan hasil, seseorang yang
selalu mengutamakan tugas dan hasil adalah seseorang yang selalu mengutamakan
nilai-nilai motif berprestasi, berorientasi pada laba, ketekunan dan ketabahan,
tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energik dan berinisiatif.
3. Keberanian
mengambil resiko, tergantung pada
daya tarik setiap alternatif, persediaan untuk rugi dan kemungkinan relative
untuk sukses atau gagal. Kemampuan utnuk mengambil resiko ditentukan oleh
keyakinan diri, kesediaan untuk menggunakan kemampuan, dan kemampuan untuk
menilai resiko.
4. Kepemimpinan
kewirausahaan memiliki sifat sifat kepeloporan keteladanan, tampil berbeda, lebih menonjol dan lebih menonjol,
dan mampu berfikir divergen dan konvergen.
5. Keorisinilan
: kreativitas dan
keinovasian. Kreativitas adalah
kemampuan untuk berfikir yang baru dan berbeda, sedangkan keinovasian adalah
kemampuan untuk bertindak yang baru dan berbeda.
Perilaku Wirausaha
Pola tingkah
laku kewirausahaan tergambar dalam perilaku dan kemampuan sebagai berikut :
- Kepribadian, aspek ini bias diamati dari segi kreativitas, disiplin diri, keberanian menghadapi resiko, memiliki dorongan dan kemauan kuat.
- Kemampuan hubungan, oprasionalnya dapat dilihat dari indicator komunikasi dan hubungan antar personal, kepemimpinan dan manajmen
- Pemasaran, meliputi kemampuan dalam menentukan produk dan harga, periklanan dan promosi
- Keuangan, indikatornya adalah sikap terhadap uang dan cara mengatur uang.
Mengembangkan pribadi wirausaha identik dengan mengembangkan
perilaku wirausaha yaitu mengenali diri sendiri dan kendala yang dihadapinya
sebagai langkah awal mengemukakan enam
ciri perilaku kewirausahaan yaitu :
Ketrampilan mengambil keputusan dan mengambil resiko yang moderat dan bukan atas dasar kebetulan belaka
Bersifat energetic, khususnya dalam bentuk berbagai kegiatan inovatif
Tanggug jawab individual
Mengetahui hasil-hasil dari berbagai keputusan yang diambilnya, dengan tolak ukur satuan uang sebagai indicator keberhasilan.
Mampu mangatisipasi berbagai kemungkinan di masa dating
Memiliki kemapuan berorganisasi, yaitu bahwa seorang wirausaha memiliki kemampuan ketrampilan, kepemimpinan dan managerial
ciri perilaku kewirausahaan yaitu :
Ketrampilan mengambil keputusan dan mengambil resiko yang moderat dan bukan atas dasar kebetulan belaka
Bersifat energetic, khususnya dalam bentuk berbagai kegiatan inovatif
Tanggug jawab individual
Mengetahui hasil-hasil dari berbagai keputusan yang diambilnya, dengan tolak ukur satuan uang sebagai indicator keberhasilan.
Mampu mangatisipasi berbagai kemungkinan di masa dating
Memiliki kemapuan berorganisasi, yaitu bahwa seorang wirausaha memiliki kemampuan ketrampilan, kepemimpinan dan managerial
MOTIF MENJADI WIRAUSAHA
Ada beberapa alasan seseorang berwirausaha menurut
Wirasasmita (1994) yakni :
1. Mencari nafkah,
untuk menjadi kaya, untuk mencari pendapatan tambahan, sebaagai jaminan
stabilitas keuangan.
2. Alasan
social yaitu memperoleh gengsi/status,
untuk dapat dikenal dan dihormati, untuk menjadi panutan, agar dapat bertemu
dengan orang banyak.
3. Alasan
pelayanan, yaitu memberi pekerjaan kepada masyarakat, membantu anak yatim, membahagiakan orang tua, demi
masa depan keluarga
4. Alasan
memenuhi diri, untuk menjadi atasan/mandiri,
untuk mencapai sesuatu yang di inginkan, untuk menghindari ketergantungan pada
orang lain, agar lebih produktif dan untuk menggunakan kemampuan pribadi.
PROSES KEWIRAUSAHAAN
Pengembangan kewirausahaan di awali dari proses
sebagai berikut :
1. Proses
Inovasi
Faktor yang
mendorong terjadinya inovasi,yaitu keinginan berprestasi, adanya sifat
penasaran, keinginan menanggung resiko, dan pengalaman
2. Proses
Pemicu
Faktor yang mendorong seseorang terjun ke dunia bisnis
yaitu adanya ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang ada,
terjadinya pemutusan hubungan kerja,keberanian menanggung resiko, dan komitmen
yang tinggi terhadap bisnis
3. Proses
Pelaksanaan
Faktor yang
mendorong pelaksanaan dari sebuah bisnis yaitu kesiapan mental wirausaha secara
total, adanya manager sebagai pelaksana kegiatan, dan adanya visi jauh kedepan
untuk mencapai keberhasilan
4. Proses
Pertumbuhan
Proses pertumbuhan didorong factor organisasi,yaitu
adanya tim yang kompak dalam menjalankan usaha, adanya strategi yang mantap,
adanya struktur dan budaya organisasi yang baik dan adanya produk yang menjadi
unggulan.
Secara
umum tahap-tahap melakukan wirausaha terdiri dari :
1.
Tahap Memulai
Tahap ini dimana seseorang yang berniat untuk
melakukan usaha mempersiapkan segala seuatu yang diperlukan,di awali dengan
melihat peluang usaha baru yang mungkin,apakah membuka usaha baru atau
melakukan franchising. Juga memilih usaha yang akan dilakukan apakah di bidang
pertanian,industri atau manufaktur, maupun produksi atau jasa.
2.
Tahap melaksanakan usaha
Tahap ini seseorang wirausahawan mengelola berbagai
aspek yang terkait dengan usahanya. Mencakup aspek-aspek : Pembiayaan, SDM,
Kepemilikan, Organisasi, Kepemimpinan yang meliputi bagaimana pengambilan
resiko dan mengambil keputusan pemasaran dan melakukan evaluasi.
3.
Mempertahankan usaha
Tahap ini dimana wirausahawan berdasarkan hasil yang
telah dicapai untuk ditindak lanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
4. Mengembangkan
usaha
Tahap dimana jika hasil yang diperoleh tergolong
psitif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha
yang menjadi salah satu pilihan yang mungkin di ambil.
FAKTOR-FAKTOR
PENYEBAB KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN WIRAUSAHA
Faktor
Penyebab Keberhasilan Wirausaha
Ada beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha
berhasil adalah :
1.
Faktor Peluang
2. Faktor SDM
3. Faktor Keuangan
4. Faktor Organisasional
5. Faktor Perencanaan
6. Faktor Pengelolaan usaha
7. Faktor Pemasaran dan Penjualan
8. Faktor Administrasi
9. Faktor Peraturan Pemerintah, Politik, Sosial, dan
Budaya Lokal
10. Catatan Bisnis
Faktor Penyebab Kegagalan
Wirausaha
Ada beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal
dalam menjalankan usahanya :
1.
Tidak kompeten dalam manajerial
Tidak kompeten atautidak memiliki kemampuan dan
pengetahuan mengelola usaha merupakan factor penyebab utama yang membuat
perusahaan kurang berhasil
2.
Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan
Mengkoordinasikan, ketrampilan mengelola SDM, maupun
kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.
3.
Kurang dapat mengendalikan keuangan
Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik factor yang
paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Yaitu mengatur
pengeluaran dan penerimaan secara cermat.
4. Gagal dalam
perencanaan
Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal
dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
5.
Lokasi yang kurang memadai
Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang
tidak strategis dapat mengakiatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang
efisien.
6.
Kurangnya pengawasan peralatan
Pengawasan erat hubungannya dengan efisiensi dan
efektifitas. Kurang pengawasan mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan
efektif.
7.
Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha
Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan
mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap
setengah hati,kemungkinan gagal menjadi besar.
8.
Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan.
Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melaksanakan
perubahan, tidak akan menjadi wirausaha yang berhasil.
Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan
perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu.
Profil Wirausahawan
Tempat obeservasi yang didatangi adalah home industry shuttlecock. Nama pemiliknya adalah Bapak Herianto.
Beliau lahir pada Februari tahun 1979-an di Malang. Beliau mempunyai seorang
istri dan satu orang anak. Bapak herianto memulai usaha shuttlecock ini pada tahun 1990. Dimulai dengan tekad yang kuat
karena telah berpengalaman menjadi supervisor di salah satu pabrik shuttlecock ternama di Jawa Timur,
pabrik tersebut bernama NINE.
Wirausahawan yang lain adalah Adi Setiawan. Dia adalah salah seorang
mahasiswa UNISMA (Universitas Islam Malang) jurusan Ekonomi Manajemen yang
dilahirkan 22 tahun yang lalu. Mahasiswa yang sekarang sedang menyusun proposal
skripsi ini adalah salah satu distributor shuttlecock
yang telah diproduksi oleh Bapak Herianto. Hal yang menarik yang perlu digaris
bawahi adalah profesinya sebagai distributor dan dapat menghasilkan penghasilan
sendiri meskipun masih berstatus mahasiswa. Berangkat dari menjadi penjaga
salah satu warnet di Kota Malang berusaha terus untuk menemukan pekerjaan yang
bisa menghasilkan penghasilan yang lebih besar dan akhirnya menemukan
alternatif pekerjaan sehingga dia menjadi distributor shuttlecock meskipun membutuhkan waktu yang lumayan lama. Dia
begitu antusias dengan shuttlecock
karena dia telah menyukai badminton semenjak dia berada di SMA.
Profil Usaha
Nama
Usahawan : Adi Setiawan
Jenis
usaha : distributor shuttlecock
Merk : Rally Point
Lokasi : Jl. Biru Asri,
Singosari Malang
Alamat
Website : www.gudangshuttlecock.blogspot.com
Teknik pembuatan
Untuk membuat shuttlecock memerlukan proses yang cukup panjang, proses-proses
tersebut harus dilakukan dengan ketelitian dan ketletenan yang cukup besar agar
bisa menghasilkan shuttlecock yang
bagus pula. Sebelum melakukan pembuatan yang harus dilakukan adalah menyiapakan
bahan-bahannya terlebih dahulu. Bahan-bahan dan alat yang diperlukan adalah
sebagai beriktu:
a. Bulu angsa
Bulu angsa yang digunakan untuk
membuat cock adalah bulu angsa impor dari luar negeri. Akan tetapi pembuat shuttlecock membeli dari pasar.
b. Kepala cock
Kepala cock berasal dari bahan
khusus yang terbuat dari kayu impor.
c. Label
d. Pita label (merk)
Label dan pita untuk pembuatan
merk dagang bisa dipesan ditempat pembuatan banner dan pamphlet.
e. Gunting
Digunakan untuk merapikan cock
yang sudah dibentuk dengan bagus sebelum di lem.
f. Tang
Digunakan untuk menata cock agar
besa tertancap dengan benar, bagus dan kuat sehingga hasilnya kock akan
seimbang baik dari kecepatan dan beratnya.
g. Mesin pemotong bulu
Untuk merapikan bulu dan memotong
bulu sesuai dengan ukurannya.
h. Mesing pembuat lubang
Melubangi kepala cock agar bisa
ditancapi bulu yang sudah dipotong dengan mesi pemotong.
i.
Press (kocrok) dan sketmat
Digunakan untuk menata dan membuat
cock agar mempunyai dimeter yang sama dan berimbang, sehingga ketika dipukul
tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.
j.
Timbangan cock
Digunakan untuk menimbang cock.
Sehingga semua cock mempunyai ukuran standar yang sama.
k. Benang
Digunakan untuk membuat cock lebih
kuat dengan mengikat bulu-bulu cock yang telah di tata pada kepala cock.
l.
Lem
Digunakan untuk menempelkan cock
agar tidak lagi bergerak dan membuat cock stabil dalam ukuran standarnya.
m. Tempat cock (slob)
digunakan untuk meletakkan kock dalam kemasan agar mudah dibawa, disimpan dan tidak mudah rusak.
digunakan untuk meletakkan kock dalam kemasan agar mudah dibawa, disimpan dan tidak mudah rusak.
n. Plastic pembungkus
Digunakan untuk membungksus slob
agar terlihat lebih menarik.
Setelah bahan-bahan
dan alat-alat sudah terkumpulkan maka tahap selanjutnya adalah melakukan
pembuatan shuttlecock. Adapun
langkah-langkah dalam pembuatan shuttlecock
adalah sebagai berikut:
a. Bulu
angsa mentah yang masih belum memasuki proses mulai dimasukkan dalam tungku
untuk direbus (diuapkan diatas air yang mendidih) dan air diberi campuran
khusus dengan tujuan membuat bulu lebih kuat.
b. Bulu
yang sudah diuapkan diseleksi untuk dibedakan bulu yang memiliki kualitas baik
dan sedang untuk pengelompokan penentuan brand yang akan diberikan.
c. Bulu
– bulu yang sudah dibedakan mulai dipotong dengan menggunakan alat pemotong
khusus sehingga hasil potongan menunjukkaan ukuran dan bentuk yang sama.
d. Mempersiapkan
(melubangi) kepala shuthecock yang terbuat dari kayu dengan alat khusus
sehingga ukuran dari jarak dan lubangnya sama, sebanyak 16 lubang.
e. Memasangkan
satu-persatu bulu yang telah terpotong dengan rapi pada lubang di kepala shuttlecock
f. Setelah
bulu terpasang, dilakukan perajutan (dikaitkan) satu sama lain sehingga menjadi
kokoh. Setelah itu dilakukan pemotongan pada bulu-bulu yang tidak teratur
sehingga setelah dipotong bulu-bulu yang sudah terpotong majadi lebih rata dan
terlihat bagus serta seimbang.
g. Setelah
proses perajutan dilakukan perapian bentuk lingkar dengan alat set sehingga
bentuk shuttlecock lebih sempurna dan
ukurannya sama. Pada bagian ini ada 2 macam bagian yang dipres, antara lain
pada bagian tengan dan bagian ujung-ujung bulu. Untu bagian ujung bulu harus
sesuai dengan alat pres (sketmat) dengan ukuran 6.6cm.
h. Seleksi
satu-persatu shuttlecock dengan
dipukul layaknya melakukan pukulan saat lop atau dengan pukulan service bawah,
untuk melihan goncangan ataupun putaran shuttlecock
saat di udara.
i.
Dilakukan pengeleman (perekatan) antara
benang bulu dan kepala shuttlecock
sehingga menjadi kuat. Adapun Jenis lem yang digunakan ada dua macam, pertama
lem yang miliki kualitas bagus (berwarna putih) dan yang kedua adalah lem yang
memiliki kualitas biasa lem (berwarna kuning). Lem yang berkualitas biasa
cenderung akan mempengaruhi berat shutllecock karena bahan dari lem itu
sendiri.
j.
Proses penimbangan berat shuttlecock dengan tujuan menstandardkan
berat shutleecock 56-58 gr, menggunakan timbangan digital yang biasa digunakan
untuk menimbang emas.
k. Dilakukan
seleksi yang menunjukkan bagus dan kurang bagus diberikan pada kelompok yang
berbeda untuk dibedakan jenis brand yang berbeda sesuai dengan harga yang
dipasarkan.
l.
Dari masing-masing kelompok hasil
seleksi mulai diberikan brand atau
merk sesuai dengan kualitas shuttlecock.
m. Setelah
diberikan brand sesuai dengan
kualitasnya, setelah itu shuttlecock
siap untuk dikemas
Pemasaran
1.
Link/jaringan cara mencari link
Setelah proses pembuatan shuttlecock
selesai hingga tahap sempurna, maka selanjutnya dilakukan distribusi.
Distribusi ini hanya mengandalkan media website, karena memang belum ada kantor
atau tempat paten yang bisa didatangi secara langsung oleh konsumen. Hal ini
sedikit menghambat proses komunikasi dan distribusi shuttlecock yang telah dibuat tersebut, karena pembeli tidak bisa
memesan secara langsung shuttlecock
yang diinginkan.
Proses penyaluran shuttlecock
berprinsip seperti pohon faktor. Artinya sebagai distributor dia hanya
menyalurkan shuttlecock yang telah
jadi kepada pengepul ataupun kepada konsumen.
Dari keterangannya ada
beberapa jaringan atau penadah yang sudah menjadi mitra dalam menyalurkan shuttlecock yang mayoritas berada diluar
jawa. Para pengepul tersebut antara lain berasal dari daerah:
a.
Aceh
b.
Dumai
c.
Indramayu
d.
Batam
e.
Samarinda
f.
Bekasi (dalam proses)
Melihat dari beberapa tempat yang lumayan jauh dari
Malang tentunya agak merepotkan distributor dalam penyalurannya. Olehkarena itu
distributor tersebut lebih memilih aman dengan meminta para pengepul untuk
mengirimkan uangnya terlebih dahulu beserta ongkos kirimnya dan setelah semua
persyaratan terpenuhi shuttlecock
bisa dikirim.
Untuk mempertahankan jaringan yang begitu luas
distributor tidak hanya mengandalkan seorang pengepul saja, akan tetapi
beberapa pengepul sehingga proses distribusi shuttlecock dengan brand-nya bisa tetap lancar. Prinsipnya jika
salah seorang pengepul tidak bisa menghabiskan jatah shuttlecock yang telah ditentukan maka dalam jangka waktu tertentu
tidak akan disuplay kembali dan di berikan jatah orang tersebut kepada orang
lain yang lebih mumpuni untuk menjual shuttlecock
dengan target yang ditentukan.
2.
Masalah perijinan
Kendala perijinan (No. Reg) barang menjadi hal yang mahal bagi home industry seperti ini. Pada dasarnya
mereka mengetahui akan risiko bisnis yang mereka tekuni. Mereka sadar bahwa
jika shuttlecock mereka memiliki
kualitas bagus, kemungkinan besar akan banyak yang mereplika produk mereka.
Jika memiliki perijinan atau nomor registrasi produk mereka akan dapat menuntut
pihak yang mereplika atau meniru produk mereka dengan mudah, namun jika tidak
memiliki nomor registrasi tersebut proses penuntutan mereka akan sulit
terpenuhi. Selain itu ada kelebihan lain jika memiliki nomor registrasi produk,
produk mereka kemungkinan besar akan dapat bersaing dengan brand besar seperti
Mika*a, Ni*e dll dalam perebutan pasar di bidang instansi resmi khususnya PBSI.
3.
Keuntungan/keuangan
Modal awal enterprenuer muda kita sebesar 500.000, beliau hanya
mendapat tidak lebih dari 20 slop shuttlecock
dan itu hanya di gunakan untuk sample pada orang yang akan memesan. Mula-mula
beliau memasarkan brand Rally point melalui blog, kemudian ada yang memesan
brand lain yang ada di blognya beliau menawarkan brand rally point dulu dengan
mengirimkan sample tersebut. Hingga pemesan pun memesan brand rally point.
Dengan uang pemesan, beliau langsung menggunakannya sebagai modal untuk
pembuatan shuttlecock sesuai dengan
jumlah pesanan (pemutaran uang), sisa dari modal pembuatan shuttlecock tersebut adalah laba bagi beliau. Laba bersih yang di
raup oleh beliau sekiranya lebih dari UMR kota Malang dan tidak lebih dari 3
juta per bulan (di rahasiakan oleh mas Adi).
4.
Jumlah karyawan
Untuk proses pengerjaan dalam pemasangan bulu dibutuhkan karyawan
yang lumayan banyak agar cepat selesai. Akan tetapi pada home industri yang ada
hanya terdapat sekitar 12 karyawan. Sehingga untuk kebutuhan cock dalam jumlah
besar tidak bisa langsung diadakan.
Langganan:
Postingan (Atom)